Jofipay- Sentimen positif mengenai inflasi Amerika Serikat (AS) membawa bursa saham dan mata uang menjadi lebih baik.
Perbaikan sentimen terlihat dari kenaikan indeks saham AS semalam. Hari ini indeks saham Asia seperti Nikkei dan Kospi juga terlihat menguat.

Meredanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi di Negeri Paman Sam juga bisa mendukung penguatan rupiah.
Terpantau rupiah siang ini menguat 0.10% atau 14.50 poin menjadi Rp14,340.50 per dolar AS pada pukul 13:20 WIB, yang sebelumnya ditutup pada level Rp 14.355 per dolar AS.
Sementara itu indeks dolar AS masih bergerak di kisaran bawah pekan lalu di sekitar 89,7.

Harga-harga saham dan mata uang digital sudah kembali menghijau.
Nikkei 225 Jepang menguat 0,64% ke 28.553,00 pukul 13.28 WIB,Kospi Korea Selatan juga menguat 0,67% ke 3.165,41 pukul pukul 13.28 WIB.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) juga mengalami kenaikan.
Tercatat tiga indeks acuan Wall Street semuanya sukses menghijau. Indeks Dow Jones menguat 0,54% ke level 34.393,98, S&P 500 melesat 0,99% ke 4.197,05, dan Nasdaq dengan konstituen saham teknologi naik paling tinggi berhasil meroket 1,41% ke posisi 13.661,17.

Pejabat Federal Reserve AS, termasuk Gubernur Lael Brainard, Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic dan Presiden Fed St. Louis James Bullard, menegaskan bahwa inflasi bersifat sementara.

Bullard mengatakan pada hari Senin bahwa bank sentral belum siap untuk mengurangi langkah-langkah stimulusnya, dan inflasi diharapkan akan naik di atas 2% pada tahun 2021 dan memasuki tahun 2022.

Komentar-komentar tersebut meredakan kekhawatiran tentang kenaikan inflasi, beberapa investor tetap khawatir bahwa Fed dapat dipaksa untuk mengubah kebijakan dovish saat ini lebih awal dari yang diharapkan jika tekanan inflasi meningkat.

“Inflasi adalah fokus utama bagi investor, yang berarti ketidakpastian atas apa yang terjadi pada suku bunga,” kata Chris Ingo, kepala investasi inti di Manajer Investasi AXA, dalam catatan.

"Kurva imbal hasil telah stabil, tetapi tidak jelas bahwa kekhawatiran inflasi yang diperbarui secara otomatis bisa berarti kurva yang lebih curam," tambah catatan itu.

Investor sekarang menunggu rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS, metode yang disukai Fed untuk mengukur inflasi, pada hari Kamis.